Perlukah Silo Rudal Balistik Untuk Indonesia ditengah memanasnya tensi geopolitik kawasan dan seberapa efektifkah sistem silo tersebut.
Belakangan ini, jagat maya dihebohkan dengan munculnya cuitan, terkait adanya rencana pembangunan sistem SILO untuk Rudal Balistik milik Indonesia.
Dan pada artikel kali ini, kita akan coba menganalisa, seberapa efektifkah, jika Indonesia mempunyai sistem SILO khusus yang terpasang dibawah permukaan tanah.
Jika melihat dari peta kekuatan militer dunia, mayoritas negara dengan kekuatan militer besar dan mempunyai akses ke teknologi rudal balistik seperti Rusia, China, Amerika Serikat, Prancis, hingga Korea Utara.
Baca Juga: Mengenal Helikopter Tempur MI-35M Punya TNI AD
Dalam pengembangannya, negara-negara tersebut juga turut membangun fasilitas peluncuran rudal balistik bawah tanah, yang sebagian besar dipergunakan untuk meluncurkan sistem rudal balistik Antar benua, berhulu ledak nuklir.
Disamping itu, Sistem SILO bawah tanah sendiri telah dipercaya oleh banyak negara, untuk meluncurkan beragam jenis sistem rudal balistik dari tahun 1943.
Dengan Pemerintah Nazi Jerman, menjadi negara pertama di dunia, yang menggunakan konsep SILO Rudal Balistik, sebagai bagian dari doktrin pertahanan rudal nasional.
Dan baru di tahun 1960-an, Negara-negara besar seperti Rusia serta Amerika Serikat, mulai secara masif membangun sistem rudal balistik berbasis SILO bawah tanah.
Dan sejak saat itu, banyak negara di dunia, meyakini, jika sistem SILO Bawa Tanah dapat jadi solusi alternatif, untuk mencegah negara lain, mengetahui lokasi peluncuran Rudal dan jenis rudal yang dioperasikan secara real-time.
Jadi andai kata, negara lain mungkin berhasil mendapatkan lokasi keberadaan dari sistem SILO Rudal Balistik milik Indonesia.
Yang bisa saja dilakukan, melalui teknologi satelit militer tingkat tinggi, atau menggunakan Pesawat pengintai ketinggian tinggi, seperti Lockheed U-2 dan SR-71 Blackbird buatan Amerika Serikat.
Namun ada satu hal yang dapat dipastikan. Negara tersebut, tetap tidak bisa mengetahui pasti secara real-time, jenis rudal balistik tipe apa, yang sedang stand by di dalam SILO Rudal.
Terkecuali, adanya kebocoran data, terkait sistem SILO rudal bawah Tanah tersebut.
Disamping itu, sejauh ini belum banyak negara di dunia, yang mempunyai teknologi satelite tingkat tinggi, ataupun pesawat intai ketinggian tinggi seperti Amerika Serikat.
Dan di kawasan Asia Tenggara, teknologi tersebut belum dimiliki oleh negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
Serta karena adanya sistem “Barrier to Entry” inilah, yang membuat sistem SILO Rudal Balistik, masih dianggap relevan oleh banyak negara di dunia.
Ditambah lagi dalam operasi militer Amerika Serikat ke wilayah Iran, Angkatan Udara dan Laut AS, berhasil melumpuhkan puluhan unit kendaraan peluncur rudal balistik milik Iran.
Yang mana ini, membuat Iran kala itu mengalami kesulitan, untuk mengoptimalkan jumlah serangan rudal balistik ke wilayah Israel dan pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Sistem SILO Rudal Balistik yang tertanam dibawah permukaan tanah, membuatnya sangat sulit dijangkau oleh sistem rudal dan bom konvensional biasa.
Sehingga untuk melumpuhkan sistem SILO Rudal bawah tanah, diperlukan Bom jenis bunker buster, yang memang dirancang khusus untuk melumpuhkan fasilitas militer dibawah permukaan tanah.
Meski terdengar sederhana, namun nyatanya, belum banyak negara di dunia, yang dapat memproduksi secara mandiri sistem Bom jenis bunker buster.
Dan tidak sedikit negara juga yang saat ini masih mengimpor bom tipe tersebut, untuk keperluan pertahanan nasional.
Disamping itu sekalipun sistem Bom bunker buster ini dijual, jumlah amunisis bom yang dapat diterima oleh negara pengguna, juga akan dibatasi,
hingga adapun kemungkinan, sistem senjata yang dijual telah mengalami pengurangan kemampuan, alias versi Ekspor.
Sejalan dengan itu, meski dilayar kaca China, Rusia, dan Amerika Serikat terkesan saling bermusuhan.
Namun untuk menjaga hubungan diantara negara superpower, biasanya negara-negara tersebut akan membuka terlebih dahulu jalur komunikasi, sebelum kontrak pembelian senjata di setujui oleh negara produsen.
Dan hal ini, dapat kita pelajari dari konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, di kawasan Asia Tenggara, belum semua negara ASEAN, mempunyai sistem bom bunker buster di inventaris aset pertahanan nasionalnya.
Yang mana hal ini, dapat meningkatkan dan mempertahankan efek deterrence, dari Sistem SILO Rudal Balistik Indonesia,
jika kedepannya, rencana pembangunan sistem SILO Rudal Balistik benar adanya.
Dan sejalan dengan itu, sebagai negara yang belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi rudal balistik secara mandiri,
maka Indonesia baru berpeluang untuk mengisi Sistem SILO Rudal Bawah tanah ini, menggunakan Rudal Balistik dengan jangkauan jelajah tidak lebih dari 300 km, sebagaimana aturan MTCR yang telah disepakati oleh banyak negara produsen Rudal Balistik di dunia.
Disamping itu, sejauh ini baru Sistem Rudal Balistik KHAN buatan Turkiye, yang berpotensi akan menghuni sistem SILO Rudal Balistik milik Indonesia.
Meski demikian, sampai saat ini, Informasi terkait adanya rencana pembangunan sistem SILO Rudal Balistik oleh Indonesia, belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, dan kementerian pertahanan RI juga belum menanggapi soal adanya rumor tersebut.
Baca Juga: Mengenal Kapal USV Tipe 21 Meter Buatan TESCO Indomaritime
Itu dia pembahasan tentang Perlukah Silo Rudal Balistik Untuk Indonesia.
Kunjungi selalu lintaspikiran.com untuk melihat lebih banyak informasi seputar alutsista.



