Alasan Kapal Induk Tidak Bisa Dimiliki Semua Negara. Biaya operasional, resiko aset Militer rusak, dan sebagainya.
Dihampir setiap operasi militer Amerika Serikat belakangan ini seperti di timur tengah, Amerika Selatan dan Asia Timur.
Tidak luput dari keterlibatan kelompok penyerang Kapal Induk atau mudahnya sering disebut sebagai Carier Strike Group (CSG).
Dibalik gagahnya sekelompok kapal induk yang berlayar dilautan luas, ternyata ada banyak resiko dibaliknya.
dan ini bisa jadi alasan, mengapa tidak semua negara didunia, ditakdirkan untuk memiliki Kapal Induk.
Bahkan sekelas Rusia saja, sampai saat ini belum terlihat begitu ambisius untuk memiliki Kapal Induk Baru.
BESARNYA BIAYA OPERASIONAL
Kapal Induk adalah aset militer yang begitu berharga dan negara yang memiliki kapal induk, bisa dipastikan memiliki radius operasi militer lebih jauh, ketimbang negara tanpa aset militer kapal induk.
Dalam setiap misi, Kapal Induk tidak hanya membawa sekelompok pesawat tempur diarea dek penerbang dan lambung kapal.
Dimana dalam misinya, Kapal Induk juga turut membawa sejumlah pasukan reguler, pasukan elit, dan kelompok alat militer untuk mendukung operasi didarat.
Sementara dilautan, kapal induk tidak pernah bergerak sendiri, ia selalu dikawal oleh banyak kapal perang disekitarnya.
Dalam kelompok penyerang Kapal Induk, biasanya terdiri dari:
- 3 – 5 unit Kapal Perusak
- 2 – 3 unit Kapal Jelajah
- 2 – 5 unit Kapal Fregate
- 1 – 2 unit Kapal Tanker dan Kargo
- 3 – 5 unit Kapal Selam
Jumlah dapat berubah, mengikuti komposisi kapal.
Dengan begitu, sudah dipastikan biaya untuk pengoperasian satu kapal induk jelas tidak murah.
Dimana untuk satu kapal induk milik Amerika Serikat, Kelas Nimitz dan Ford.
Baca Juga: Spesifikasi Kapal Patroli Baru BAKAMLA Indonesia
Perjamnya diperkirakan menghabiskan biaya operasional sekitar $83.000 sampai $333.000 dollar Amerika atau sekitar Rp1,39 sampai Rp5,59 miliar Rupiah perjamnya.
Jika satu hari ada 24 jam, maka untuk satu unit kapal induk dapat menghabiskan biaya operasional berkisar Rp16,73 miliar sampai Rp67,12 miliar rupiah perhari.
Angka tersebut, belum termasuk biaya operasional dari masing-masing kapal yang tergabung dalam Kelompok Penyerang Kapal Induk.
Jika melihat dari analisa DefensXP.
Disana disebutkan, jika kelompok kapal induk Amerika Serikat, terutama kelas Nimitz, biaya operasional untuk satu kelompok kapal induk ditaksir sekitar $7 juta dollar AS per-hari atau sekitar $291.000 dollar AS per-jamnya..
jika dirupiahkan mencapai Rp117,6 miliar rupiah perhari.
Baru membahas soal biaya operasional kapal induk saja, kita dapat menghapus banyak nama negara dari daftar.
Thailand adalah salah satu negara dikawasan Asia Tenggara yang dari segi finansial, tidak begitu kuat untuk mengoperasikan satu unit kapal induk.
Yang mana ini, membuat kapal Induk Thailand, lebih suka bersandar di dermaga. ketimbang bertugas dilautan luas.
BESARAN RESIKO DAN KERUGIAN MILITER
Berikutnya ada soal resiko kerugian aset Militer skala besar dan jangka panjang.
Kapal Induk memang dijaga ketat oleh banyak kapal perang permukaan, kapal selam, helikopter, pesawat tempur, hingga pesawat peringatan dini berbasis kapal induk.
Dengan satu tujuan, yaitu untuk menghalau berbagai potensi serangan yang mengarah langsung ke kapal induk.
Meski terdengar cukup kuat, namun fakta dilapangan terkadang berbicara berbeda dari analisa diatas meja.
Sehingga resiko kapal induk dapat terkena serangan, tetap ada.
Apabila kapal induk terkena serangan, maka resiko kerugian bakal jauh lebih memukul negara pengguna.
Sebab kapal induk membawa banyak aset militer.
Jika berkaca dari segi finansial sudah dipastikan angka kerugiannya sangat besar.
Namun jika dilihat dari segi waktu produksi, untuk memproduksi satu unit pesawat tempur, pabrikan memerlukan waktu produksi paling singkat sekitar 2-3 tahun.
Jika dalam kapal tersebut ada 2 skadron, dengan asumsi 1 skadron terdiri dari 16 unit aset udara, maka kerugian akibat kapal induk yang tenggelam berkisar 32 unit.
Yang jadi pertanyaan, berapa lama negara pemilik kapal induk, memerlukan waktu untuk membangun ulang kekuatan militernya yang telah hancur.
Dan ini baru perhitungan soal kapal induk yang karam dan aset udara yang tenggelam.
belum termasuk biaya kompensasi negara, terhadap setiap personil angkatan laut yang gugur dikapal induk tersebut.
STABILITAS POLITIK DENGAN NEGARA PRODUSEN
Kapal Induk dan pesawat tempur berbasis kapal Induk merupakan dua aset militer yang tidak diproduksi oleh banyak negara.
Bahkan sekelas Eropa saja, saat ini bergantung pada pesawat tempur F-35 berbasis kapal Induk buatan Amerika Serikat.
Sejauh ini negara yang memiliki kapal Induk di dunia, mayoritas pesawat tempur yang digunakannya diproduksi oleh negara Rusia, China, Prancis, dan Amerika Serikat.
Serta Perlu diketahui, juga jika mayoritas negara produsen alat militer, pasti memiliki aturan penggunaan alutsista seperti Amerika Serikat dengan regulasi “end use monitoring”
Sehingga setiap pengoperasiannya wajib dilaporkan ke negara produsen.
Ini adalah bagian tidak enaknya, dari negara konsumen.
Sehingga apabila hubungan antara negara konsumen dan produsen dimasa yang akan datang berjalan tidak baik.
Maka alat militer yang dioperasikannya, dapat sewaktu-waktu diembargo.
dan negara konsumen dalam hal ini, akan kesulitan mendapatkan dukungan suku cadang, amunisi, dan masih banyak kerugian lainnya.
yang cepat atau lambat akan membuat alat militer tersebut, tidak lagi berfungsi dengan optimal.
Dan jika hal tersebut terjadi pada kapal induk, maka kerugiannya akan berkali-kali lipat dari aset Militer lainnya.
itu dia pembahasan soal, Alasan Kapal Induk Tidak Bisa Dimiliki Semua Negara.
Baca Juga: Mengenal Fregate Type 053H3 China Bakal Calon KRI Baru Indonesia
Kunjungi selalu lintaspikiran.com untuk melihat beragam informasi lainnya seputar militer.



