Analisa Spesifikasi Kapal LPD Ukuran 163 Meter Buatan Indonesia, Dirancang untuk pasar ekspor dan domestik, UEA akan jadi penggunaan pertama?
Saat ini, PAL Indonesia dikabarkan tengah melakukan proses pembangunan sekitar 1 unit kapal Landing Platform Dock berukuran 163 meter, pesanan negara Uni Emirat Arab, dibawah nama proyek Al Maryah.
Namun berbeda dengan Kapal LPD buatan PT PAL sebelumnya, platform ini secara desain dan spesifikasi, sudah berada diatas dari semua kelas kapal tipe Landing Platform Dock yang pernah diproduksi oleh PT PAL Indonesia.
Sebab diatas kertas, kapal ini lebih mendekati kategori kapal militer tipe Multi-Role Support Ship atau MRSS dan PT PAL Indonesia mengkategorikan proyek kapal besar tersebut sebagai Multi-Role Mission Ship atau MRMS, yang jika diterjemahkan sebagai kapal dukungan multi-peran.
Sehingga kapal ini tidak hanya dirancang untuk dapat mengangkut pasukan dan kendaraan tempur dalam jumlah besar saja.
Tetapi juga dipersiapkan untuk menjalankan berbagai fungsi tempur dan dukungan sekaligus, dalam satu platform terintegrasi.
Baca Juga: Bedah Konsep KCR 60 Meter Generasi Baru Buatan PAL Indonesia
Dimana kapal LPD dari proyek Al Maryah ini dapat difungsikan oleh Uni Emirate Arab sebagai pusat komando operasi laut, yang dapat menjalankan operasi serbu amfibi, dukungan serangan dan logistik melalui udara (via Helikopter/drone), hingga dalam kondisi damai, kapal ini juga dapat diperbantukan untuk operasi bantuan kemanusiaan skala besar.
Sementara dalam mode kesiapan tempur, kapal ini diproyeksikan dapat membawa sebanyak 16 unit tank tempur utama, 6 unit kendaraan lapis baja berpenggerak 8×8, hingga dapat memfasilitasi sebanyak 500 personil pasukan dan 150 awak kapal.
Jika melihat rencana produksinya, kapal ini nantinya akan memiliki panjang platform mencapai 163 meter, lebar sekitar 24 meter, dengan bobot lebih dari 13 ribu ton.
Ukuran tersebut membuatnya jauh lebih besar dan berat, dibanding Kapal LPD kelas Makassar milik Indonesia dan kelas Tarlac Filipina, yang dikembangkan dari basis platform yang sama.
Meski secara visual masih memiliki kemiripan dengan kapal LPD kelas Makassar, namun kemampuan operasional dari kapal ini berada pada level yang berbeda.
Karena dalam skenario operasi sesungguhnya, platform kapal Al Maryah dirancang untuk mampu menggerakkan berbagai unsur tempur secara bersamaan, dalam jumlah besar dan salah satu kemampuan paling menonjol dari kapal ini terletak pada kemampuan operasi udaranya.
Berbeda dengan LPD kelas Makassar yang memiliki kapasitas dek penerbang terbatas, kapal ini diproyeksikan mampu membawa hingga 5 unit helikopter sekaligus.
Dengan konfigurasi 3 unit helikopter dapat ditempatkan langsung di deck penerbang, sementara 2 unit lainnya berada didalam hanggar.
Dimana ke 5 Helikopter ini dapat menjalankan berbagai peran dan operasi udara, secara berkelanjutan.
Mulai dari operasi pengintaian, mobilisasi pasukan, evakuasi medis, patroli laut, hingga dapat juga mendukung operasi tempur di wilayah pendaratan dan menjalankan operasi anti kapal selam.
Yang mana peran tersebut, dapat dijalankan mengikuti jenis helikopter yang dibawa dalam pelayaran dan kapal LPD ini kabarnya dapat membawa helikopter jenis H225M, helikopter CH-47 Chinook, serta pesawat tanpa awak maritim.
Namun kemampuan kapal ini tentu tidak berhenti di udara saja.
Karena sebagai platform yang didesain untuk mendukung operasi amfibi skala besar, maka bagian buritan kapal juga dilengkapi dengan well deck yang mampu menampung hingga 2 unit Landing Craft Utility atau LCU.
Dimana LCU ini menjadi salah satu komponen paling penting dalam operasi pendaratan amfibi.
Sebab melalui platform inilah, kendaraan tempur, tank, logistik, hingga pasukan dapat didaratkan langsung menuju pesisir tanpa harus bergantung pada fasilitas pelabuhan.
Dalam skenario perang modern, kemampuan seperti ini menjadi sangat penting ketika akses menuju wilayah operasi tidak memungkinkan dilakukan lewat jalur konvensional dan ini merupakan salah satu peran, yang membuat kehadiran kapal perang sejenis LPD, serta Multi-Role Support Ship sangat diperhitungkan keberadaannya.
Meski begitu dibalik dimensi dan bobot yang begitu besar, kapal ini juga memiliki kekurangan pada kemampuan Kombatan, dan ia hanya dirancang untuk terfokus pada sistem pertahanan diri.
Dimana dalam projek Al Maryah ini, kapal dengan ukuran 163 meter tersebut akan didukung oleh:
- Sistem meriam utama multiperan, dengan opsi meriam kaliber 57 mm dan 76 mm.
- 4 unit senapan otomatis, kaliber 12.7 mm yang tersebar dibeberapa sisi platform kapal.
- adapun 2 unit sistem CIWS yang terpasang dekat dek penerbang dan hangar kapal.
- Hingga potensi penggunaan sistem pertahanan udara jenis RIM-116, yang dapat menembakkan amunisi rudal pertahanan udara.
Dimana kedua sistem Close In Weapon System atau CIWS, yang terpasang pada kapal ini, berfungsi sebagai lapisan pertahanan terakhir ketika rudal atau ancaman udara berhasil menembus perimeter pertahanan kapal.
Sedangkan senapan otomatis 12,7 mm, dapat difungsikan untuk menghadapi ancaman serangan asimetris, salah satunya mengintersept kapal cepat musuh yang bergerak mendekati kapal.
Kemudian untuk memaksimalkan kapasitas operasi kapal, di kapal besar ini juga didukung oleh 2 unit interceptor boat dan 2 unit RHIB.
Yang dapat menjalankan operasi patroli cepat maupun operasi boarding, untuk misi pengejaran, dan pengamanan perimeter.
Sedangkan untuk kemampuan pelacakan target, kapal LPD ini nantinya akan dibekali oleh sistem radar pencari permukaan dan terintegrasi dengan teknologi IFF, untuk mendeteksi objek, sekaligus mengidentifikasi objek sebagai kawan atau lawan.
Kemudian adapun sistem Electro-Optical Tracking, Electronic Support Measures, dan sistem radar navigasi, yang terpasang pada struktur tiang utama kapal.
Sementara untuk sistem penggeraknya, kapal ini kabarnya akan didukung oleh dua mesin tipe 7.280 kW, yang mampu mendorong kapal besar tersebut berlayar hingga di kecepatan maksimal, capai 20 Knot dan bisa beroperasi sejauh 10.000 mil laut.
Serta kapal LPD ini juga diklaim dapat beroperasi secara non-stop selama 30 hari.
Terlepas dari itu, Proyek kapal LPD bernama Al Maryah punya Uni Emirat Arab ini, menurut kepala Produksi PAL Indonesia untuk Program LPD UEA.
Menyebut jika kapal tersebut akan segera dikirim ke Uni Emirat Arab sebelum akhir tahun 2027 mendatang.
Setelah menjalani fase produksi sekitar 3 tahun, yang dimulai sejak pemotongan baja pertama pada awal tahun 2024 dan peletakan lunas dibulan April ditahun yang sama.
Itu dia pembahasan tentang Analisa Spesifikasi Kapal LPD Ukuran 163 Meter Buatan Indonesia.
Baca Juga: Indonesia Buat Bunker Bawah Tanah Dibawah Pegunungan
Kunjungi selalu lintaspikiran.com untuk melihat lebih banyak informasi seputar teknologi dan alutsista militer.



