Bahas Kekuatan Drone dan Pesawat Nirawak Indonesia, ternyata sudah TNI sudah mengoperasikan banyak kendaraan Nirawak.
Kita ketahui, pasca meletusnya konflik bersenjata antara Ukraina dan Rusia, dunia seolah sangat menyoroti penggunaan dan efektivitas kendaraan tanpa awak serta drone militer dalam operasi tempur nyata.
Tidak sedikit negara, yang kini telah mengadopsi kendaraan nirawak dan drone militer sebagai bagian dari doktrin sistem pertahanan nasional, tanpa terkecuali Indonesia.
Dikawasan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara paling ambisius untuk membangun dan menguasai kemampuan tempur strategis, menggunakan kendaraan tak berawak serta Drone Militer.
Hal ini dapat dibaca melalui belanja dan rencana belanja pertahanan nasional Indonesia, dalam kurung waktu beberapa tahun belakangan.
Baca Juga: Mengenal Jet Tempur RAFALE Indonesia
Seperti pembelian beragam jenis drone Jelajah berkemampuan Intai dan Tempur buatan China, hingga rencana akuisisi cukup banyak unit Drone Militer serta pesawat nirawak buatan Turkiye.
Selain melalui jalur impor, dengan mengedepankan skema Tranfer of Teknologi, Indonesia juga terus mendorong industri pertahanan Nasional untuk berkembang dan menghadirkan drone militer serta kendaraan Nirawak buatan Lokal.
Hasilnya saat ini ada banyak nama kendaraan tanpa awak dan drone militer yang tengah dikembangkan oleh sejumlah industri pertahanan Nasional, serta bekerjasama dengan lembaga riset Indonesia.
Melalui riset jangka panjang, diharapkan kedepannya Indonesia akan lebih bergantung pada drone militer buatan dalam negeri, terutama Drone FPV dan Loitering Munition.
Selain ekosistem industri pertahanan yang terus bertumbuh dengan pesat, Sejumlah Matra TNI, kini telah memiliki pasukan dengan kemampuan pengendali drone.
Meski demikian, hingga saat ini Indonesia belum memiliki Satuan Khusus Operator Drone maupun Komando Drone Gabungan yang saling terintegrasi lintas matra TNI, dan secara khusus bertanggung jawab atas pengoperasian drone intai-tempur serta sistem nirawak sejenisnya.
Sementara itu, pasukan pengendali drone yang ada saat ini, merupakan pasukan organik yang lahir dari tiap Matra TNI, mencakup TNI angkatan darat, laut, dan udara
Dimana kesimpulan ini, didasari atas pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dalam wawancaranya disela-sela acara penutupan Latihan Dasar Kemiliteran pada Jumat, 5 Juni 2026.
dan beliau juga sampaikan, jika
“Pengembangan kemampuan drone tempur ke depan masih terus dikaji dan disiapkan oleh TNI sesuai kebutuhan pertahanan negara,”
Sehingga dapat disimpulkan kembali, ada kemungkinan, jika diperlukan, kedepannya tiap matra TNI dapat membentuk Satuan Khusus Operator Drone, atau pembentukan Komando Drone Gabungan yang saling terintegrasi dengan ketiga Matra TNI.
Lalu bagaimana Implementasi dilapangan saat ini, terkait Teknologi Drone dan sistem Nirawak?
Di Matra Angkatan Udara, Indonesia telah memiliki Satuan Wing Udara 4.1 UCAV, yang bertanggung jawab pada kesiapan awak pesawat dan pengoperasian alutsista tanpa awak milik TNI Angkatan Udara.
Dalam strukturnya, Wing Udara 4.1 UCAV – saat ini telah mengkomandoi 2 skadron udara – yang juga diisi oleh pesawat udara nirawak, yaitu Skadron Udara 51 Reaper dan Skadron Udara 52 Phoenix, yang kini mengoperasikan Pesawat Udara nirawak jenis CH-4 Rainbow buatan China, sementara Skadrone Udara 51 dikabarkan telah mengoperasikan Pesawat Udara Nirawak jenis ANKA-S Buatan Turkiye.
Selain kedua Skadrone Udara tersebut, Indonesia juga tengah merencanakan pembentukan 4 skadrone udara lagi, yang akan difokuskan pada pengoperasian kendaraan udara tanpa awak.
Berikutnya di Matra Angkatan Laut, Indonesia telah mempunyai Skuadron Udara 700 Wing Udara 2 PUSPENERBAL: yang kini mengoperasikan beragam jenis pesawat udara tanpa awak dan drone militer.
dibeberapa acara besar TNI, Skadrone Udara 700 membawa kendaraan udara nirawak jenis Insitu UAV ScanEagle, UAV HC-450 VSTOL, dan berbagai jenis Drone Maritim lainnya.
Serta kedepannya, ada kemungkinan SKADRON UDARA 700 akan dipersenjatai dengan Pesawat Udara Nirawak jenis ANKA-S, BAYRAKTAR TB3, dan UCAV KIZILELMA versi Kapal Induk.
Serta potensi pembentukan satuan khusus yang akan mengoperasikan kendaraan laut tak berawak dan kendaraan bawah permukaan laut nirawak, seperti KSOT rancangan PAL Indonesia.
Selanjutnya, kita beralih ke matra Angkatan Darat, dimana di matra di AD penggunaan drone masih berada dibawah komando masing-masing Satuan atau divisi, Seperti Group 5 KOPASSUS, Batalyon Infanteri PARA RAIDER 502, Batalyon Infanteri Para Raider 431, dan masih banyak lagi.
Terbaru, Indonesia meresmikan markas komando dan pengendalian (kodal) kendaraan nirawak atau drone, untuk mendukung operasional Satgas TNI di Papua, dan fasilitas ini diberinama Gedung Centralized Drone Command Center, berlokasi di kompleks Batalion Infanteri 754 di Mimika, Papua Tengah.
Dimana dengan kondisi alam papua yang cukup kompleks, hadirnya teknologi kendaraan nirawak dan drone militer, akan mempermudah TNI mengawasi keamanan masyarakat Papua dan berupaya menetralisir potensi ancaman sedini mungkin.
Itu dia pembahasan tentang Bahas Kekuatan Drone dan Pesawat Nirawak Indonesia.
Baca Juga: Mengenal Tank Medium CFL-120 Varian Baru Dari Tank HARIMAU
Kunjungi selalu lintaspikiran.com untuk melihat lebih banyak informasi seputar teknologi dan alutsisga militer.



